Disaat Calon Wakil Rakyat Sibuk Menebar Perhatian, Dua Lansia Ini Justru Terabaikan

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Disaat Calon Wakil Rakyat Sibuk Menebar Perhatian, Dua Lansia Ini Justru Terabaikan

Senin, 05 November 2018
Kuningan - Jelang Pemilihan Calon Anggota Legislatif baik di tingkat DPR-RI, DPRD Provinsi, maupun DPRD Kabupaten, banyak dari para calon anggota legislatif yang saat ini berlomba-lomba menarik simpatik dari masyarakat agar kelak di bilik suara mau mencoblos namanya agar dapat terpilih menduduki kursi wakil rakyat.

Berbagai cara dilakukan oleh para calon wakil rakyat ini melalui kampanyenya termasuk memberikan perhatian lebih kepada masyarakat, bahkan tidak jarang dari mereka yang sampai merogoh koceknya demi memenuhi permintaan dari masyarakat yang berkomitmen untuk memilihnya.

Berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh para calon wakil rakyat yang kini tengah menebar dan menabur perhatiannya kepada masyarakat, dua wanita lansia, Nenek Carmi (65) bersama kakak kandungnya, Warsuni (70), warga Rt.04 Rw.04 Dusun Wage, Desa Ciomas, Kecamatan Ciawigebang, yang kini hidup dalam kondisi yang memperihatinkan justru luput dari perhatian banyak orang.

Nenek Carmi sudah kurang lebih empat tahun mengalami lumpuh di kedua kakinya, sehingga hanya bisa terbaring lemas di balai-balai di dalam kamarnya. Sementara, Warsuni, kakaknya, juga tidak bisa berjalan dengan sempurna, kedua kakinya terasa lemas akibat gejala struk dan darah tinggi yang dideritanya.

"Ema mah asam urat, tos teu tiasa kamamana, alhamdulillah aya nu ngalongokan oge (Nenek menderita asam urat, sudah tidak bisa ke mana-mana, Alhamdulillah ada yang nengok juga)," ujar Nenek Carmi ketika ditemui di kediamannya, Senin (05/11/2018).

Kondisi yang begitu mengenaskan begitu tampak ketika memasuki kamar yang menjadi tempat Nenek Casmi terbaring karena kelumpuhan yang dideritanya. Kondisi dinding kamar yang sudah usang ditambah dengan bau tidak sedap yang begitu menusuk hidung membuat warga sekitar juga menjadi enggan untuk menghampiri.

Rupanya bau tidak sedap itu berasal dari dipan tempat nenek Carmi terbaring, dimana akibat kelumpuhannya sehingga segala aktifitasnya dilakukan di atas tempat tidurnya termasuk untuk buang air kecil maupun buang air besar. Meski demikian sang kakak tetap setia untuk membantu adiknya tersebut dalam melakukan aktifitasnya.

Bukan enggan untuk berobat, mereka sesekali juga memanggil bidan yang tak jauh dari rumah mereka. Namun, kata mereka, untuk kesembuhan sakit yang dideritanya, butuh biaya yang lumayan besar. Jangankan untuk biaya berobat yang begitu besar, bahkan untuk makan, kedua nenek tersebut hanya bisa mengandalkan belas kasihan dari warga sekitar. Itu juga bantuan tak seberapa, hanya cukup makan sekali saja.

"Saha wae nu masihan ema mah, dahar oge enjing sonten mah aya nu sok masihan ti tatangga, saayana wae (Siapa saja belas kasihan pada nenek, makan juga pagi sore suka ada yang memberi dari tetangga, seadanya), " keluhnya.

Keduanya memang hidup tanpa sanak saudara, ada juga saudara laki-laki, warga Desa Pangkalan, namun nasibnya tak jauh berbeda dengan mereka. Suami Warsuni, sudah tiga tahun meninggal karena sakit. Pun begitu dengan suami Carmi, sudah lama dipanggil Sang Pencipta. 

"Kieu geuning nasib jalmi nu teu gaduh wargi mah, anak oge teu gaduh, (Begini nasib orang yang tidak punya sanak keluarga mah, anak juga tidak punya), " ucap Nenek Carmi.

Melihat keadaan seisi rumah mereka, nampak jauh dari kelayakan. kursi sofa rusak berantakan bercampur perabotan layaknya gudang rongsokan berserakan di ruang depan. Sementara di ruang tengah, ada "meja makan" yang hanya diisi gelas dan piring plastik. Lantai rumah pun penuh dengan debu berserakan di sana-sini, mungkin tak mampu mereka bersihkan.

Tak ada kompor di dapur untuk mereka memasak makanan. Jangankan untuk memasak, yang mau dimasaknya juga tak ada. Bahkan air untuk minum pun, mereka selalu diberi tetangga belakang rumahnya.

Bukan tidak pernah tersentuh bantuan, mereka mengatakan sesekali ada warga yang tersentuh mengulurkan tangan pada mereka. Namun, itu jarang sekali mereka dapatkan. 

Terkait bantuan dari pemerintahan desa, ucap Warsuni, hanya sekedar pemberian beras raskin yang dititipkan pada tetangganya untuk makan mereka sehari-hari. 

Salah seorang tetangga mereka, Lili Saili menuturkan bahwa rumah mereka pun sebenarnya sudah terjual. Konon, uang dari penjualan rumah tersebut, dibayar dengan cara dicicil untuk biaya makan mereka sehari-hari. 

Terpisah, Ibu Suyami (55), tetangga yang biasa memberi makan kedua wanita lansia tersebut, menuturkan bahwa dirinya merasa kasihan kepada mereka. Sehingga, setiap hari, pagi dan sore hari, Ia mengantarkan makanan seadanya buat mereka.

"Karena kasihan saja Kang, mereka berdua sudah tidak punya saudara dan keadaannya repot tidak bisa kemana-mana. Untuk minum juga Saya yang ngasih," terang Suyami didampingi suaminya, Edi Nadi.

Terkait biaya untuk memberi makan kedua nenek tersebut, Suyami dan suaminya mengatakan, adalah murni dari pribadi mereka. Apa yang mereka makan hari itu, itu pula yang diberikan pada Nenek Carmi dan Warsuni.

"Seadanya saja kang, kami makan tempe, mereka pun sama. Kami makan tahu, mereka juga sama," ujar Edi Nadi menimpali.

.imam