Beginilah Teknik Pembelajaran Di Daerah Terpencil Seperti SMPN 1 Cilebak

Iklan Semua Halaman

Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px. Iklan ini akan tampil di halaman utama, indeks, halaman posting dan statis.

Tag Populer

Beginilah Teknik Pembelajaran Di Daerah Terpencil Seperti SMPN 1 Cilebak

Sabtu, 26 September 2020
Kepala SMPN 1 Cilebak, Kabupaten Kuningan, Momon Surahman, S.Pd


KUNINGAN, (BM) - Daerah terpencil seperti kecamatan Cilebak kabupaten Kuningan yang tidak semua desa terjangkau jaringan internet memunculkan teknik pembelajaran baru ditengah Pandemi Covid-19. Seperti yang terjadi di SMP Negeri 1 Cilebak, dimana tidak semua siswa dibeberapa desa bisa mengikuti pembelajaran sistem Daring. Sehingga pihak sekolah harus mengadakan teknik pembelajaran Luring. Dimana setiap guru mata pelajaran memberikan tugas secara langsung kepada daerah yang tidak terjangkau koneksi internet.


Menurut Kepala SMPN 1 Cilebak, Momon Surahman, S.Pd, sebenarnya beberapa waktu SMPN 1 Cilebak sudah mengadakan simulasi pembelajaran tatap muka selama dua minggu. Namun setelah angka kasus positip Covid-19 di kabupaten Kuningan naik dan berubah menjadi zona oranye (sekarang), sehingga kegiatan KBM tatap muka di sekolah terpaksa dihentikan kembali sesuai instruksi Bupati dan kembali ke Daring dan Luring.


"Sebelum ini kita sudah dua Minggu mengadakan simulasi tatap muka di sekolah disertai protokol kesehatan yang ketat. Setiap siswa bisa mengikuti tatap muka tiga kali dalam seminggu. Namun karena bupati menginstruksikan berhenti berhubung kasus positip Covid-19 di Kuningan, jadi ya kami juga kembali ke Daring dan Luring," jelas Momon saat ditemui di sekolahnya, Rabu (23/9).


Untuk Luring sendiri dijelaskannya, kami memilih guru yang berasal dari setempat atau mendekati daerah yang tidak ada koneksi internet. Diketahui dari jumlah siswa SMPN 1 Cilebak sebanyak 220 orang, 70 persen mengikuti pembelajaran Daring, Sementara 30 persen mengikuti pembelajaran Luring. 


"Misalnya untuk desa Legokherang, dikoordinasi oleh guru yang berasal dari desa tersebut ada pak Warto. Pak Warto lah yang nanti menyampaikan tugas ke siswa yang ada di desa Legokherang atau siswanya yang datang ke pak Warto," tuturnya.


Situasi akibat penyebaran Covid-19, rupanya memberikan pengalaman yang luar biasa bagi dunia pendidikan. Dimana siswa dipaksa untuk mengikuti pembelajaran Daring dengan keterbatasan pasilitas. Hal ini membuat pemerintah melalui Kemendikbud secara bertahap mulai menyalurkan bantuan kuota internet gratis untuk semua siswa. 


Disamping itu juga, pemerintah daerah melalui dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga sudah saatnya ikut memikirkan pasilitas IT sekolah. Sebagai contoh, di SMPN 1 Cilebak karena sulit untuk mendapatkan WiFi dengan kecepatan mumpuni, saat ini baik guru maupun tenaga pendidik bekerja secara online dengan menggunakan fasilitas WiFi dengan kecepatan hanya 3 Mbps. 


"Hanya dengan kecepatan internet 3 Mbps kita juga sebenarnya kesulitan ketika banyak data atau laporan yang harus dikirim secara online. Sehingga operator pun ketika mau input dapodik harus malam," pungkas Momon. (Irwan)

GilaBola+