Acara Seren Taun Cigugur Warisan Budaya Leluhur, Harumkan Kabupaten Kuningan
KUNINGAN (BM) - Rangkaian acara Seren Taun 2026 yang berlangsung 3 - 8 Juni 2026 kembali menyedot perhatian masyarakat. Digelar di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, perhelatan budaya tahunan ini berlangsung khidmat sekaligus meriah dengan menampilkan beragam ritual adat dan pertunjukan seni budaya Nusantara.
Layaknya di tahun-tahun sebelumnya, Seren Taun 2026 yang digelar oleh masyarakat Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan (AKUR) berlangsung selama beberapa hari dengan puncak acara berlangsung pada Minggu, 8 Juni 2026.
Tak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil bumi, Seren Taun Cigugur juga kembali menunjukkan wajah Kabupaten Kuningan sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, toleransi, dan pelestarian budaya leluhur.
Pada acara saresehan yang digelar hari minggu 7 Juni 2026, panitia menyuguhkan materi dengan tema Ekotheologi di Paseban Tri Panca Tunggal, oleh Aang Taufik, M. Si yang juga merupakan Ketua LPM Kelurahan Cigugur dan pengawas di Kementrian agama kabupaten Kuningan. Ekotheologi merupakan ilmu tentang Imam, Alam dan Amanah menjaga ciptaan dan menyempurnakan ibadah. Ilmu ini mengajarkan kepada manusia tentang cara pandang keagamaan yang menempatkan pelestarian alam sebagai ketaatan terhadap Tuhan.
Sementara itu, Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M. Si., menegaskan bahwa Seren Taun memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar perayaan panen.
"Seren Taun bukan sekadar perayaan panen semata. Seren Taun adalah perjalanan kehidupan yang mengajarkan bahwa manusia tidak pernah bisa hidup sendiri. Ada tanah yang memberi kehidupan, ada air yang menghidupkan, ada matahari yang menerangi, ada sesama yang menguatkan, dan ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi sumber segala keberkahan," ujarnya.
Dian Rachmat menyatakan, meski kemajuan zaman kian pesat masyarakat tidak boleh menghilangan identitas budaya yang diwariskan pada leluhur. Ia pun menggambarkan bahwa budaya sebagai ‘Akar’ yang menjadikan sebuah bangsa tetap kokoh menghadapi perubahan.
"Pohon yang besar bukan hanya karena rantingnya menjulang tinggi, melainkan karena akarnya menghujam ke bumi. Begitu pula sebuah bangsa, akan tetap tegak apabila mampu menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya," imbuhnya.
Seren Taun Harumkan Kabupaten Kuningan
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar mengungkapkan kebanggaannya karena upacara adat Seren Taun Cigugur kini telah dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi salah satu identitas kuat yang melekat pada Kabupaten Kuningan.
"Ketika orang berbicara tentang Kuningan, mereka tidak hanya berbicara tentang alam yang indah atau kuliner, tetapi juga berbicara tentang Cigugur dan Seren Taun," ungkapnya
Ia juga menyebut upacara adat Seren Taun sebagai gambaran nyata kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam namun tetap harmonis. Masyarakat Cigugur dinilai mampu menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan, budaya, dan tradisi bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan. "Keberagaman bukan ancaman, tetapi anugerah. Persatuan bukan berarti harus sama, melainkan bagaimana berbagai perbedaan dapat berjalan bersama menuju tujuan yang sama," tegasnya
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya, Pemerintah Kabupaten Kuningan berencana memasukkan Seren Taun ke dalam kalender budaya resmi daerah.Jaringan media lokal "Tahun depan insyaallah Seren Taun akan menjadi bagian dari kalender budaya Kabupaten Kuningan dan akan kita dukung sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan sektor pariwisata daerah," ujarnya.
Saat Tradisi Leluhur Mengingatkan Pentingnya Menjaga Alam Angklung Baduy hingga Tari Rejang Renteng Memukau Pengunjung, Ketua Yayasan Tri Panca Tunggal sekaligus Ketua Panitia Seren Taun, Dewi Kanti Setianingsih, menjelaskan bahwa tahun ini Seren Taun mengusung tema "Merdika Ngolah Rasa untuk Masa Depan Bangsa". Tema tersebut menegaskan bahwa Seren Taun tidak hanya menjadi tradisi syukur panen, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila, gotong royong, dan kemanusiaan. Apresiasi juga datang dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual (PNBFKI), I Made Dharma Suteja, menilai Seren Taun merupakan warisan budaya agraris Nusantara yang memiliki nilai luhur dan tetap relevan di era modern.
Pada kesempatan yang sama, I Made Dharma Suteja, S.S., M.Si. Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual (PNBFKI) di bawah Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Cigugur dalam menjaga tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, Seren Taun merupakan salah satu representasi budaya agraris Nusantara yang memiliki nilai luhur dan relevan dengan kehidupan masa kini. Ia menekankan pentingnya menjaga lahan pertanian, sumber daya air, serta keberlangsungan profesi petani sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelestarian budaya.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Seren Taun yang terus hidup dan berkembang. Tradisi seperti ini merupakan kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya
Puncak acara semakin semarak dengan penampilan berbagai kesenian tradisional. Mulai dari Tari Puragabaya Gebang, Angklung Kanekes dari masyarakat Baduy, Angklung Buncis khas Kuningan, hingga Tari Buyung yang menggambarkan kedekatan masyarakat Sunda dengan alam. Tak kalah menarik, penampilan Tari Rejang Renteng dari Bali turut memukau para tamu undangan. Tarian sakral yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO itu menjadi simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.
Selain pertunjukan seni, berbagai prosesi adat seperti Helaran Memeron, Ngajayak, Pangrajah, hingga Penumbukan Padi kembali menjadi daya tarik utama yang sarat makna filosofis tentang kehidupan, pertanian, dan hubungan manusia dengan alam. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Seren Taun Cigugur kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu warisan budaya paling berharga di Kabupaten Kuningan, sekaligus menjadi simbol persatuan dan toleransi yang terus hidup di tengah keberagaman Indonesia.
. (One)




